Jakarta, 8 Mei 2026 — Transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam pola komunikasi dan interaksi masyarakat. Kehadiran media sosial, platform komunikasi instan, hingga ruang diskusi digital membuka peluang konektivitas yang semakin luas, namun di sisi lain juga meningkatkan potensi munculnya konflik akibat perbedaan perspektif, miskomunikasi, hingga dinamika hubungan sosial yang semakin kompleks.
Di tengah perubahan tersebut, ilmu psikologi memiliki peran yang semakin penting dalam membantu masyarakat memahami perilaku manusia, pola komunikasi, hingga pengelolaan emosi di era digital. Tidak hanya berfokus pada kesehatan mental, psikologi kini juga menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat, meningkatkan empati, serta menciptakan ruang interaksi yang lebih positif dan konstruktif di tengah derasnya arus informasi digital.
Menjawab fenomena tersebut, Faculty of Humanities melalui Psychology Program BINUS University kembali menghadirkan Dialog Psikologi Nusantara XIV dengan mengangkat tema “Ruang Penyelesaian Konflik: Relasi dan Interaksi di Era Digital”. Kegiatan ini menjadi forum akademik yang mempertemukan perspektif psikologi, antropologi, dan pengalaman generasi muda untuk membahas pentingnya penyelesaian konflik secara konstruktif di tengah perkembangan dunia digital.
Acara yang berlangsung pada Jumat, 8 Mei 2026 pukul 09.00–11.30 WIB ini menghadirkan Prof. Dr. Drs. Semiarto Aji Purwanto, M.Si., Guru Besar Bidang Antropologi Universitas Indonesia, Dr. Esther Widhi Andangsari, S.Psi., M.Si., Psikolog selaku Head of Psychology Department BINUS University, serta Nadine Abigail, mahasiswa Psikologi BINUS University. Diskusi dipandu oleh moderator Indra Kurniawan.
Dalam paparannya, Prof. Dr. Drs. Semiarto Aji Purwanto, M.Si. menyoroti perubahan pola interaksi sosial masyarakat di era digital yang mempengaruhi cara individu memahami konflik.
“Ruang digital membuat interaksi berlangsung sangat cepat dan terbuka, namun sering kali minim konteks. Hal ini dapat memicu kesalahpahaman yang berkembang menjadi konflik sosial. Karena itu, masyarakat perlu membangun budaya dialog yang lebih reflektif dan empatik,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Esther Widhi Andangsari, S.Psi., M.Si., Psikolog menekankan pentingnya kemampuan individu dalam mengelola emosi dan komunikasi di tengah derasnya arus informasi digital.
“Penyelesaian konflik di era digital tidak hanya membutuhkan kemampuan komunikasi, tetapi juga kesadaran emosional, empati, serta kemampuan memahami perspektif orang lain. Literasi digital dan kesehatan psikologis menjadi aspek yang saling berkaitan dalam membangun relasi yang sehat,” jelasnya.
Dari perspektif generasi muda, Nadine Abigail menyampaikan bahwa mahasiswa dan generasi digital native perlu memiliki ruang diskusi yang aman untuk belajar memahami perbedaan pandangan.
“Generasi muda hidup sangat dekat dengan media digital. Karena itu, penting bagi kami untuk belajar bagaimana menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab dan menyelesaikan konflik tanpa memperkeruh situasi,” ungkap Nadine.
Melalui Dialog Psikologi Nusantara XIV, BINUS University berharap dapat memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya membangun relasi yang sehat di ruang digital sekaligus mendorong terciptanya budaya komunikasi yang lebih inklusif, adaptif, dan konstruktif di tengah perkembangan teknologi yang terus bergerak dinamis.
Sebagai institusi pendidikan, BINUS University terus berkomitmen menghadirkan ruang diskusi yang relevan dengan tantangan masyarakat modern. Melalui Program Studi Psikologi, BINUS tidak hanya mempersiapkan mahasiswa untuk memahami aspek akademik dan profesional di bidang psikologi, tetapi juga mendorong lahirnya individu yang mampu memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan sosial yang sehat, resilien, dan berorientasi pada kolaborasi di era digital.



