Oleh Gautam Kumar Jha, Assistant Professor di Jawaharlal Nehru University
Jakarta — Rencana kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada pekan pertama Juli 2026, menyusul kunjungan bersejarah Presiden Indonesia Prabowo Subianto sebagai tamu kehormatan pada peringatan Hari Republik India tahun lalu, menjadi tonggak baru dalam hubungan bilateral yang terus berkembang pesat antara New Delhi dan Jakarta.
Setelah Pertemuan Komisi Bersama (Joint Commission Meeting/JCM) ke-8 di New Delhi awal bulan ini, Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono mengonfirmasi bahwa persiapan kunjungan Modi tengah berlangsung. Ia menyebut kunjungan tersebut sebagai bentuk timbal balik atas kunjungan Presiden Prabowo sekaligus menegaskan bahwa kerja sama kedua negara kini telah meluas, tidak hanya mencakup diplomasi tradisional, tetapi juga farmasi, perdagangan, pelatihan tenaga medis, pariwisata, kebudayaan, hingga kerja sama ekonomi yang lebih luas.
Sekilas, perkembangan ini mungkin tampak seperti rutinitas diplomasi biasa. Namun kenyataannya tidak demikian.
Intensitas pertukaran kunjungan para pemimpin, pertemuan tingkat menteri, dialog strategis, konsultasi pertahanan, kolaborasi lembaga pemikir, hingga kemitraan antara institusi dalam tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa baik South Block di India maupun Kementerian Luar Negeri Indonesia menanamkan modal politik yang belum pernah sebesar ini dalam hubungan bilateral.
Hal tersebut memunculkan pertanyaan penting. Mengapa Indonesia kini menempati posisi yang begitu strategis dalam prioritas diplomasi India? Mengapa hubungan ini justru memperoleh perhatian yang lebih besar dibandingkan hubungan India dengan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya?
Jawaban-jawaban konvensional tidak lagi memadai.
Kawasan Indo-Pasifik memang menjadi konteks strategis yang penting. Keamanan maritim, kerja sama pertahanan, rantai pasok yang tangguh, dan konektivitas regional telah menjadi tema utama hubungan kedua negara. Negosiasi akhir mengenai kemungkinan pembelian sistem rudal BrahMos, peningkatan kerja sama angkatan laut, semakin besarnya perhatian terhadap Selat Malaka, hingga rencana pembangunan bandar antariksa di Biak, Papua, menunjukkan bahwa India dan Indonesia kini semakin memandang satu sama lain sebagai mitra maritim yang tidak tergantikan.
Namun, semua itu hanya menjelaskan sebagian dari keseluruhan cerita.
Faktor ekonomi pun belum sepenuhnya memberikan jawaban. Nilai perdagangan bilateral telah mendekati US$30 miliar dan terus menunjukkan tren peningkatan. Indonesia kini menjadi salah satu mitra dagang terbesar India di ASEAN, sementara India merupakan salah satu tujuan ekspor utama Indonesia.
Meski demikian, India masih mencatat defisit perdagangan lebih dari US$17 miliar terhadap Indonesia, salah satu defisit bilateral terbesar yang dimilikinya. Jika ketimpangan ekonomi semata menjadi penentu prioritas diplomatik, situasi seperti ini seharusnya membatasi, bukan justru mempercepat, kedekatan politik kedua negara.
Dengan demikian, jawabannya terletak di tempat lain.
Dalam Jakarta Futures Forum tahun lalu, Presiden Observer Research Foundation, Samir Saran, menyatakan bahwa hubungan India dan Indonesia pada banyak aspek sesungguhnya lebih besar dibandingkan kemitraan India dengan Inggris, Jepang, maupun Jerman. Namun ironisnya, hubungan tersebut justru memperoleh perhatian yang sangat minim dalam diskursus strategis India.
Lebih jauh, ia menilai bahwa Indo-Pasifik baru akan benar-benar menemukan bentuknya ketika India dan Indonesia, bersama mitra-mitra yang memiliki visi serupa, mengambil tanggung jawab lebih besar dalam membentuk masa depan kawasan.
Pandangan tersebut layak mendapat perhatian serius. Indonesia kini tidak lagi sekadar penting sebagai mitra dagang atau mitra keamanan maritim. Indonesia telah menjadi bagian penting dari cara India membayangkan masa depan Indo-Pasifik.
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, juga mengingatkan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya dibangun oleh dinamika geopolitik kontemporer, tetapi oleh hampir dua ribu tahun interaksi peradaban.
Mulai dari aksara Pallawa, prasasti berbahasa Sanskerta, hingga jalur perdagangan maritim yang memanfaatkan angin muson, Teluk Benggala dan Kepulauan Nusantara telah menjadi ruang peradaban bersama jauh sebelum lahirnya negara-bangsa modern.
Sebagaimana ia sampaikan, hubungan India dan Asia Tenggara saat ini hampir tidak dibayangi sengketa wilayah. Sebaliknya, hubungan tersebut ditandai oleh kesamaan kepentingan strategis, kerja sama ekonomi yang terus berkembang, serta posisi bersama sebagai bagian dari Global South.
Dengan demikian, tantangan utama bukanlah kurangnya kepentingan bersama, melainkan belum adanya perhatian strategis yang berkelanjutan.
Di sinilah tampaknya perubahan paling mendasar sedang berlangsung.
Selama beberapa dekade, hubungan India dan Indonesia lebih banyak dipahami melalui lensa kemitraan strategis. Kerja sama pertahanan, keamanan maritim, perdagangan, dan konektivitas menjadi fondasi utama hubungan bilateral.
Semua itu tetap penting. Namun kini, fondasi tersebut tidak lagi cukup.
Yang mulai berkembang adalah kesadaran baru bahwa kemitraan yang benar-benar berkelanjutan tidak bisa hanya bergantung pada kalkulasi geopolitik yang selalu berubah.
Kemitraan strategis dibangun oleh pemerintah. Namun kemitraan yang bertahan lama justru dipelihara oleh masyarakat.
Hubungan semacam itu membutuhkan peran universitas, lembaga penelitian, pertukaran budaya, kolaborasi ilmiah, pengembangan pengetahuan tradisional, serta pemahaman sejarah bersama yang mampu menciptakan basis sosial bagi kerja sama jangka panjang.
Sejumlah perkembangan belakangan ini menunjukkan arah perubahan tersebut. Kerja sama pengobatan tradisional melalui Ayurveda dan Jamu, kolaborasi ilmiah dalam Indonesia–India Bioresources Consortium (IIBC), meningkatnya kemitraan akademik, semakin intensifnya pertukaran antar lembaga pemikir, hingga tumbuhnya kembali perhatian terhadap warisan maritim menjadi bukti bahwa agenda hubungan kedua negara kini jauh melampaui diplomasi konvensional.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan mekanisme multilateralisme tradisional yang semakin sulit mengakomodasi aspirasi negara-negara berkembang, India dan Indonesia mulai membangun kemitraan yang melampaui kepentingan strategis jangka pendek.
Diplomasi kini semakin berakar pada ketahanan kawasan, otonomi strategis, serta modal peradaban yang dimiliki bersama.
Sebagai dua negara demokrasi terbesar di Asia Selatan dan Asia Tenggara, India dan Indonesia memiliki bonus demografi, posisi geografis maritim yang sangat strategis, kapasitas teknologi, keanekaragaman hayati yang luar biasa, serta warisan peradaban yang sama.
Kombinasi tersebut menempatkan kedua negara pada posisi yang unik untuk membentuk masa depan Indo-Pasifik sekaligus memperkuat kerja sama di antara negara-negara Global South.
Karena itu, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi mendatang seharusnya tidak hanya dipandang sebagai agenda diplomatik rutin, tetapi juga sebagai momentum untuk merumuskan kembali fondasi intelektual hubungan kedua negara.
Di samping berbagai kesepakatan mengenai perdagangan, pertahanan, dan konektivitas, kedua pemerintah juga dapat mulai melembagakan kemitraan yang lebih mendalam melalui inisiatif bersama di bidang warisan peradaban, riset keanekaragaman hayati, pengobatan tradisional, sejarah maritim, pendidikan tinggi, serta diplomasi budaya.
Inisiatif-inisiatif tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan kemitraan strategis yang telah ada, melainkan memperkuatnya dengan fondasi sosial yang lebih luas dan lebih kokoh.
Sejarah mengajarkan bahwa India dan Indonesia tidak pernah terhubung hanya melalui perdagangan atau kepentingan strategis semata.
Selama berabad-abad, kedua bangsa dipersatukan oleh pertukaran gagasan, sistem pengetahuan, jaringan maritim, dan interaksi peradaban yang membentuk kawasan Samudra Hindia.
Tantangan bagi para pembuat kebijakan saat ini bukanlah menghidupkan kembali masa lalu, melainkan menafsirkan kembali warisan tersebut agar relevan bagi masa depan.
Mungkin itulah yang kini sedang berlangsung secara perlahan antara South Block dan Kementerian Luar Negeri Indonesia.
Apa yang kita saksikan hari ini tampaknya bukan sekadar penguatan satu lagi kemitraan strategis.
Lebih dari itu, kita mungkin sedang menyaksikan ditemukannya kembali salah satu hubungan tertua di Asia sekaligus lahirnya babak baru, ketika India dan Indonesia bersama-sama berupaya membentuk masa depan Indo-Pasifik sekaligus menawarkan visi kerja sama yang lebih inklusif bagi Global South.



