Saatnya Indonesia dan India Memperkuat Kemitraan yang Saling Menguntungkan

0
36

Oleh Primus Dorimulu*

Jakarta — Indonesia dan India telah berbagi sejarah selama ribuan tahun. Kini saatnya kedua negara tidak hanya mewarisi masa lalu yang luar biasa tersebut, tetapi juga bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik, sehingga keduanya mampu memainkan peran yang semakin penting di panggung global. Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 7 Juli 2026 berpotensi menjadi titik balik lahirnya sebuah kemitraan strategis baru yang benar-benar saling menguntungkan.

Kunjungan Perdana Menteri Modi sebagai tamu resmi Presiden Prabowo Subianto jauh melampaui makna sebuah kunjungan kenegaraan rutin. Kunjungan ini merupakan balasan atas kehadiran Presiden Prabowo sebagai Tamu Kehormatan pada peringatan Hari Republik India, 26 Januari 2025. Lebih dari itu, pertemuan kedua pemimpin menjadi kesempatan berharga untuk membawa hubungan Indonesia–India memasuki babak baru, yakni bertransformasi dari hubungan yang selama ini bertumpu pada sejarah menjadi kemitraan strategis yang relevan bagi abad ke-21.

Pada hakikatnya, Indonesia dan India dihubungkan oleh sebuah ikatan peradaban. Jauh sebelum lahirnya negara-bangsa modern, Kepulauan Nusantara dan anak benua India telah terhubung melalui jalur perdagangan Samudra Hindia yang menjadi sarana pertukaran barang, agama, bahasa, ilmu pengetahuan, seni, arsitektur, serta filsafat. Pengaruh Hindu dan Buddha dari India berakar kuat di Nusantara dan melahirkan berbagai warisan budaya yang hingga kini menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia, seperti Candi Borobudur dan Prambanan, wayang, kisah Ramayana dan Mahabharata, serta berbagai nilai budaya yang masih hidup di tengah masyarakat. Karena itu, hubungan Indonesia dan India bukan sekadar hubungan antara dua negara, melainkan hubungan antara dua peradaban besar Asia.

Namun, sejarah tidak boleh hanya dikenang. Sejarah harus menjadi fondasi untuk membangun masa depan. Indonesia dan India sama-sama memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kekuatan global yang berpengaruh. Kuncinya terletak pada adanya saling pengertian dan kerja sama yang benar-benar memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

Jika pada masa lalu hubungan kedua negara dibangun melalui perdagangan rempah-rempah, penyebaran agama, dan pertukaran budaya, maka masa depan Indonesia dan India akan dibentuk oleh teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), ekonomi digital, keamanan siber, semikonduktor, industri pertahanan, energi bersih, serta kedaulatan data. Perubahan ini mencerminkan transformasi yang sangat mendasar, yaitu pergeseran dari hubungan yang berakar pada kesamaan peradaban menuju kemitraan yang didorong oleh inovasi.

Transformasi tersebut menjadi semakin relevan ketika dunia tengah mengalami perubahan geopolitik terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin. Persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah mengubah pola perdagangan global, investasi, rantai pasok, hingga perkembangan teknologi. Dalam situasi seperti ini, negara-negara menengah seperti Indonesia dan India harus memiliki visi strategis yang jauh ke depan. Kedua negara tidak boleh hanya menjadi pasar atau objek persaingan kekuatan besar, tetapi harus tampil sebagai aktor yang ikut membentuk tatanan ekonomi global yang baru. Dalam konteks inilah hubungan Indonesia–India memperoleh arti strategis yang semakin besar.

India saat ini merupakan salah satu ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, India diperkirakan akan menjadi ekonomi terbesar ketiga di dunia dalam satu dekade mendatang. Dengan populasi sekitar 1,4 miliar jiwa, bonus demografi yang kuat, sektor teknologi informasi yang telah matang, serta keberhasilan membangun Digital Public Infrastructure melalui identitas digital, sistem pembayaran digital, dan jaringan perdagangan digital, India kini berkembang menjadi salah satu pusat inovasi paling penting di dunia.

Di sisi lain, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara yang memiliki sumber daya alam strategis, populasi lebih dari 285 juta jiwa, posisi geografis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta potensi besar dalam pengembangan mineral kritis, transisi energi, dan ekonomi digital. Berbagai proyeksi dari OECD, PwC, dan Goldman Sachs bahkan menunjukkan bahwa Indonesia berpeluang menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia pada pertengahan abad ini apabila berhasil meningkatkan produktivitas, memperkuat kualitas sumber daya manusia, serta mempercepat penguasaan teknologi.

Dengan kata lain, Indonesia dan India merupakan dua ekonomi yang secara alami saling melengkapi. Sayangnya, hubungan ekonomi kedua negara hingga kini belum sepenuhnya mencerminkan potensi tersebut. Indonesia menikmati surplus perdagangan yang cukup besar dengan India, terutama melalui ekspor batu bara, minyak sawit, karet, mineral, dan berbagai komoditas berbasis sumber daya alam lainnya. Sebaliknya, India mengekspor produk farmasi, mesin, kendaraan, teknologi informasi, layanan digital, serta berbagai produk manufaktur bernilai tambah tinggi ke Indonesia.

Surplus perdagangan tentu merupakan kabar baik bagi Indonesia. Namun, dari perspektif ekonomi pembangunan, ketergantungan pada ekspor komoditas saja tidak akan cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran ekonom pembangunan terkemuka seperti Ha-Joon Chang dan Alice H. Amsden, yang menunjukkan bahwa negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan berhasil mengejar ketertinggalan bukan semata-mata melalui perdagangan bebas, tetapi melalui pembangunan industri yang terarah, investasi teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta transfer pengetahuan. Kemajuan ekonomi tidak lahir hanya dari ekspor bahan mentah, melainkan dari kemampuan menguasai teknologi dan menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Karena itu, hubungan ekonomi Indonesia dan India perlu memasuki tahap yang baru. Fokus kerja sama tidak lagi cukup hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi harus diperluas menuju investasi dua arah, transfer teknologi, riset bersama, pengembangan industri manufaktur, ekonomi digital, kecerdasan buatan, semikonduktor, farmasi, serta pembangunan ekosistem inovasi. Bentuk kerja sama seperti inilah yang tidak hanya menjaga keberlanjutan perdagangan, tetapi juga mempercepat transformasi Indonesia menjadi negara industri yang lebih maju dan memiliki daya saing global.

Arus investasi antara Indonesia dan India juga masih menunjukkan ketimpangan yang cukup besar. Data menunjukkan bahwa nilai investasi India di Indonesia jauh melampaui investasi Indonesia di India. Sepanjang 2025, investasi India di Indonesia mencapai sekitar US$237,6 juta, sementara investasi Indonesia di India baru mencapai sekitar US$9,8 juta. Kesenjangan ini sekaligus menunjukkan masih terbukanya ruang yang sangat luas untuk memperkuat investasi bilateral agar tumbuh lebih seimbang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi kedua negara.

BRICS: Platform Strategis Baru

Momentum tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia dan India kini sama-sama menjadi anggota BRICS. Indonesia resmi bergabung sebagai anggota penuh ke-11 BRICS pada 6 Januari 2025. Selain itu, kedua negara juga sama-sama tergabung dalam World Trade Organization (WTO) dan G20. Indonesia memiliki posisi strategis sebagai anggota ASEAN dan APEC, sementara India memainkan peran yang semakin besar di dalam BRICS maupun di antara negara-negara Global South. Keanggotaan bersama di BRICS seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai simbol politik, melainkan sebagai platform baru untuk memperkuat kerja sama Selatan-Selatan dalam bidang pembangunan, perdagangan, investasi, inovasi, serta reformasi tata kelola ekonomi global. Bergabungnya Indonesia ke BRICS juga bukan berarti menjauh dari Amerika Serikat maupun Eropa. Sebaliknya, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi memperluas pilihan diplomasi dan ekonomi, sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, yakni menjalin hubungan baik dengan semua negara tanpa berpihak pada satu blok geopolitik tertentu.

Di dalam BRICS sendiri, setiap negara memiliki keunggulan yang berbeda. Tiongkok unggul dalam kapasitas manufaktur dan industri, India menjadi salah satu pemimpin dalam pertumbuhan ekonomi serta inovasi digital, sementara Rusia memiliki kekuatan di bidang energi dan pertahanan. Indonesia mungkin belum menjadi kekuatan utama dalam teknologi maupun diplomasi global, tetapi Indonesia memiliki berbagai keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara lain, seperti posisi geopolitik yang sangat strategis, demokrasi yang stabil, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, cadangan mineral kritis yang melimpah, serta kemampuan menjadi middle power yang mampu menjembatani berbagai kepentingan internasional yang saling bersaing.

Mengapa Kemitraan Strategis yang Lebih Kuat Sangat Penting?

Mengapa Indonesia dan India perlu memperkuat kemitraan strategisnya?

Jawabannya dapat dipahami melalui pemikiran Hans J. Morgenthau dan Joseph S. Nye Jr. Morgenthau menjelaskan bahwa kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan militernya, tetapi juga oleh kapasitas ekonomi, sumber daya alam, penguasaan teknologi, kualitas tata kelola, semangat nasional, serta kemampuan diplomasi. Sementara itu, Nye memperkenalkan konsep soft power dan smart power, yaitu kemampuan sebuah negara memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, inovasi, teknologi, reputasi, dan kepercayaan, bukan semata-mata melalui kekuatan koersif. Dalam dunia yang semakin saling terhubung, kekuatan suatu negara tidak lagi hanya diukur dari besarnya Produk Domestik Bruto (PDB) atau kekuatan militernya, melainkan juga dari kemampuannya membangun kemitraan yang produktif dan saling menguntungkan. Negara-negara yang mampu berkolaborasi secara efektif akan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan mereka yang memilih berjalan sendiri.

Di sinilah hubungan Indonesia dan India menemukan relevansinya yang paling besar. Indonesia memiliki sumber daya alam strategis, posisi geopolitik yang sangat penting, serta ekonomi terbesar di Asia Tenggara. India menawarkan keunggulan di bidang teknologi informasi, inovasi digital, industri farmasi, dan bonus demografi. Berbagai kekuatan tersebut seharusnya tidak dipertentangkan, melainkan saling melengkapi. Kerja sama dalam investasi, transfer teknologi, kecerdasan buatan, industri digital, pertahanan, pendidikan, hingga ekonomi maritim akan menciptakan nilai yang jauh lebih besar dibandingkan apabila masing-masing negara berjalan sendiri-sendiri.

Pada akhirnya, hubungan Indonesia dan India harus bergerak melampaui romantisme sejarah maupun sekadar statistik perdagangan. Kemitraan strategis yang sesungguhnya adalah kemitraan yang mampu meningkatkan daya saing kedua negara, memperkuat pengaruh diplomatik di kawasan Indo-Pasifik, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Itulah makna sesungguhnya dari kemitraan strategis yang saling menguntungkan.

India bukan hanya sebuah pasar yang sangat besar, tetapi juga mitra yang mampu mempercepat transformasi digital Indonesia. Sebaliknya, Indonesia dapat menjadi pintu gerbang India menuju kawasan ASEAN, pusat pengembangan industri hilirisasi mineral kritis, sekaligus mitra strategis dalam memperkuat ketahanan energi, ketahanan pangan, ekonomi maritim, serta rantai pasok di kawasan Indo-Pasifik.

Karena itu, kemitraan yang saling menguntungkan harus menjadi arah baru hubungan Indonesia dan India. Kedua negara tidak lagi cukup hanya merayakan sejarah panjang yang mereka miliki ataupun membanggakan peningkatan angka perdagangan bilateral. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan menciptakan nilai bersama, melahirkan inovasi bersama, dan membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru di Asia yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas dan kemakmuran dunia.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya hari ini, tetapi juga oleh siapa yang dipilihnya untuk berjalan bersama menuju masa depan.

Indonesia dan India telah berbagi sejarah selama ribuan tahun.

Kini, kedua negara memiliki kesempatan untuk berbagi masa depan.

Jika abad ke-20 merupakan abad hubungan diplomatik Indonesia–India, maka abad ke-21 seharusnya menjadi abad kemitraan strategis Indonesia–India—kemitraan yang dibangun bukan hanya di atas romantisme sejarah, tetapi juga di atas visi bersama untuk menjadi dua kekuatan demokrasi, ekonomi, teknologi, dan diplomasi yang ikut membentuk masa depan Asia dan dunia.

*Primus Dorimulu adalah Founder dan CEO InvestorTrust Media serta DataTrust. Sebagai jurnalis dan penerbit senior di Indonesia, ia secara aktif menulis mengenai pasar modal, tata kelola perusahaan, kebijakan ekonomi, serta perkembangan investasi di kawasan Asia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here